[Prosa] Pelangi Setelah Badai Reda

 

wanita duduk di bangku taman
Gambar wanita duduk di taman berkabut (Bing AI)


Pernahkah kau rasakan lelah yang tak habis meski t'lah kau rebahkan ragamu lama?

Entah sudah tahun keberapa kurasakan letih yang seolah berlomba tampakkan parasnya.

Sejujurnya, aku bahkan tak mengerti seperti apa luka yang kuderita. Tak tahu sudah seberapa lama kutopang seluruhnya seorang diri.

Di satu sisi... aku ingin melepas seluruh belenggu yang mencekik. Sebab langkahku mulai terseok dalam badai, dan nafasku mulai tersenggal di antara rinai.

Di lain waktu aku masih ingin menguarkan angan.

Barangkali, esok pelangi datang menyapa...

Lagipula, bukannya aku tak akan pernah tahu jalan seperti apa yang terhampar di depan sana?

Siapa tahu... hadiahku sedang melambai sekuat tenaga.

Benar. Takkan ada yang tahu.


Pelangi yang Tak Kunjung Tiba


Wanita menatap langit mendung lewat jendela
Gambar wanita yang menatap langit mendung lewat jendela (Bing AI)

Mereka bilang, aku hanya perlu berlari sekuat tenaga.

Namun... mengapa tak satupun pesanku sampai ke atas sana?

Haruskah aku menyerah mendaki jurang yang tak mampu kutatap puncaknya?

Nyatanya... tak ada satupun jawaban yang mampu ditangkap telinga.

Lagi-lagi, aku berdansa dengan hujan yang tak mengenal perpisahan.

Sekali di pertengahan petang.

Sesekali di kala terik membayang.

Tak bisakah setidaknya tinggalkan aku saat ingin terlelap?

Aku lelah. Amat sangat.


Sialnya, Penaku Mulai Lupa Raut Sang Surya 



Aku masih di sini. Terjerembab dalam pertanyaan yang memerangkap hening.

Tulisan yang dulu berhati-hati kugoreskan di kertas, perlahan menjelma coretan yang mulai tak kasat mata.

Aku mulai menerka-nerka: apa surya mulai letih bernyanyi di udara?

Sebab entah mengapa... meski telah kujelajahi seluruh benua, ia tak lagi ingin tampakkan sinarnya.

Lalu... aku harus apa?

Apa salahku yang lancang bernafas di semesta?

Berhenti sajakah? Benarkah tak ada lagi harapan?

Tolong, setidaknya beri tahu apakah aku melangkah di jalan yang benar.

Jangan tinggalkan aku sendirian di kegelapan.

Cahayaku terlalu remang. Tak ada satupun petunjuk arah yang mampu kujadikan acuan.


Pelangi Setelah Badai Reda


wanita melihat pelangi di taman
Gambar wanita melihat pelangi di taman


Nyatanya, menyerah tak tertera di kamus yang kerap kubaca. 

Bukan sebab alasan klise yang kerap terucap di bibir. Namun, aku masih tak jua mampu melepas tali terakhir yang menggantung di angkasa.

Bukankah takkan mungkin kuraih bintang jika netraku takluk pada gulita?

Sedikit lagi saja.

Tak apa, meski harus menyeret jejakku sekuat tenaga.

Tak apa, walau harus bertarung tanpa satupun senjata.

Tak apa, jika cahayaku meredup di sela-sela.

Tapi satu yang kuharap takkan berhenti bergema: Tolong, berikan pelangi saat badai tak lagi bernada.

Agar aku tahu: aku juga dicintai seperti mereka.





2 Komentar

Silahkan kasih komentar kalian disini

Lebih baru Lebih lama