![]() |
| Gambar ilustrasi wanita termenung di dekat jendela (Bing AI) |
Pernahkah kau berpikir tentang bagaimana dirimu di masa lalu?
Tentang pertama kalinya kau berjalan-jalan bersama keluargamu.
Tentang bagaimana kau memulai persahabatan dengan teman pertamamu.
Atau bahkan...
Saat pertama kalinya hatimu menyebut nama seseorang dengan balutan semoga.
Ironisnya, tak semua orang cukup beruntung untuk mengulang seluruh nostalgia.
Dan aku... adalah salah satu di antaranya.
Izinkan aku menceritakan sebuah cerita yang mulai ditinggalkan oleh satu per satu karakternya.
Sebuah cerita favoritku, yang entah mengapa... terasa begitu kosong ketika aku mengingatnya.
Pahlawan yang Tak Lagi Satu Kubu
![]() |
| Gambar ilustrasi anak perempuan dan ayahnya saat hujan (Bing AI) |
Dulu, aku pernah mengenal seseorang sedalam itu.
Tidak.
Mungkin lebih tepatnya: kukira aku sudah mengenalnya dalam seumur hidupku.
Sayangnya... layaknya manusia lainnya, orang yang kukira takkan mungkin berpaling dariku, kini hanya mampu kulihat punggungnya.
Aku menyayanginya. Amat sangat.
Tak ada kata yang mampu kulukiskan untuk menggambarkan sosoknya.
Bagiku, ialah pahlawan yang kuharap mampu menatapku dengan bangga.
Untuk itulah... meski ribuan kali hatiku terpatah oleh ucapnya, tak sedikit pun terpikir untuk membencinya.
Bahkan...
Meski pahlawan yang dulu selalu menjagaku...
Kini tak lagi ingin berada satu kubu denganku.
Sosok yang Mulai Asing Dalam Ingatan
![]() |
| Gambar ilustrasi ditinggalkan |
Kau tahu apa yang kau lakukan saat pahlawan yang kau kagumi mulai melawanmu?
Tak sekali pun.
Tak pernah terlukis di mimpi terburukku, bahwa aku harus berlindung dalam puing-puing seorang diri.
Sekutu yang kukira melangkah di medan perang bersamaku... satu per satu mulai undur diri.
Dan akulah satu-satunya yang menggenggam potret usang mereka.
Yang entah mengapa, mulai lapuk termakan usia.
Hingga ingatanku mulai kehilangan nafasnya.
Aku... tak lagi mengenali mereka.
Namun ironisnya...
Kuharap... ini hanyalah mimpi di pagi buta.
Pangeran Berkuda Putih
![]() |
| Gambar ilustrasi pria dan wanita di taman (Bing AI) |
Lalu, saat seluruh pemeran cerita mulai angkat kaki, akankah aku pemeran utama seorang diri?
Tidak.
Aku tak ingin sendiri.
Siapapun, tolong... selamatkan aku.
Lalu kau datang.
Membawa kuda putih dan mahkota di kepala.
Mungkin... kaulah yang mereka sebut pangeran berkuda.
Aku mulai tak peduli pada acuh yang memerangkap ragaku.
Tak peduli pada mereka yang tak lagi ingin mendekap bayanganku.
Cukup kamu.
Kukira... setidaknya kamu saja sudah cukup bagiku.
Jadi di sinilah aku...
Mencoba mengingat seluruh rutinitas pagi dan malammu.
Menjadi dekap yang buatmu rebah pada sisi tergelapmu, sebab tak ada yang pernah menangkap jatuhku.
Kupikir... itu cukup membuatmu tinggal.
Kukira...
Meski bukan istana.
Walau tak seindah dongeng pengantar tidur.
Kukira... kaulah sang pemeran utama.
Kata Favoritku, Dulu
Nyatanya, entah pangeran ataupun pahlawan, tak satupun mampu menulis epilog yang indah.
Sang pahlawan berubah haluan secepat jarum detik berubah menit.
Dan sang pangeran yang janjikan akhir bahagia...
Berlalu pergi secepat kilat di kala gerimis.
Seluruh kenangan manis yang dulu kukira kekal, perlahan mulai berubah awalan.
Dulu, kami bertegur sapa sepanjang hari.
Sekarang, aku hanyalah orang asing yang tak kau kenali.
Dulu, kaulah yang tak pernah alpa menjemputku kala hujan.
Sekarang, aku bahkan tak lagi masuk dalam doa yang kau panjatkan.
Ternyata... waktu memang yang paling kejam.
Karena peperangan yang kukira mampu kumenangkan bersama mereka.
Cerita yang kerap mengalun layaknya nada favorit di telinga.
Nyatanya... mulai tak lagi punya tinta tersisa.
Selain menambahkan awalan berbeda: Dulu.



