[Prosa] Tak Ada Pemirsa

Kau tahu bagaimana rasanya terasing di keramaian?

Sesak.

Inginku segera berlari.

Sayangnya, kakiku tak punya cukup ruang untuk berdiri.

ilustrasi wanita yang kesepian di antara orang-orang
Gambar ilustrasi wanita yang kesepian (Bing AI)

Lalu terinjak-injaklah aku di antara kerumunan.

Ironisnya, mereka terlalu acuh untuk sekadar bertanya atau hentikan langkahnya.

Hingga aku mulai ragu pada ragaku sendiri: apakah aku tak kasat mata?

Tanya yang Tak Temukan Jawabnya

Nyatanya, tak peduli seberapa nyamannya berteman sepi, tak ada yang sanggup bernafas seorang diri.

Senyumku memudar akibat acuh yang mereka pelihara.

Logikaku mulai tak bekerja, saat mereka berani mencaciku di ruang terbuka.

gambar wanita menulis di buku diary
Gambar wanita menulis diary di malam hari ( Bing AI)

Lalu aku kehilangan suara.

Karena tak satupun telinga ingin mendengar.

Terbiasa bertanya pada hampa.

Walau tentu saja... takkan kutemukan jawabnya.

Bukan Pemeran Utama

Katanya, setiap orang adalah pemeran utama di kisahnya.

Lalu beri tahu aku: pernahkah kau temukan cerita yang tak punya cukup lakon untuk bersandiwara?

Kukira, jika kutunjukkan seluruh yang kupunya, akan ada setidaknya satu pemirsa.

Tak harus ribuan.

Baiklah.

Ratusan memang terdengar berlebihan.

Namun... satu adalah angka yang masuk akal, bukan?

Ganbar wanita melihat bangku kosong penonton dari panggung
Gambar wanita berdiri di atas panggung tanpa pemirsa (Bing AI)

Barangkali, ada hati yang menggemari.

Lalu tertarik bersanding di panggung megah bersama.

Tapi... bagaimana jika aku bukanlah pemeran utama?

Menyerah Sajalah

Gambar wanita mendengarkan musik di dalam bus
Gambar wanita mendengarkan musik di bus (Bing AI)


Tak peduli seberapa kerasnya kurangkai metafora, tak ada satupun yang sudi berhenti.

Atau setidaknya meminjamkan telinga untuk mencoba memahami.

Barangkali, hanya buang-buang tenaga.

Hening mulai mencengkeram gendang telinga.

Aku tak lagi mencoba menari di pentas.

Kutatap langit-langit pentas seorang diri.

Aku gagal menulis ceritaku sendiri.

Lalu kututup mataku 'tuk sembunyikan getir.

Kubiarkan makian berputar ulang di kepala.

Barangkali, menyerah sajalah.

Tak Ada Pemirsa


Lalu ada beberapa pasang mata mulai mengintip penasaran.

"Mengapa tak ada satupun suara?" katanya.

Dan bisikan mulai terasa riuh di telinga.

Namun tak ada yang berani hampiri atau bertanya.

Seolah menantiku buktikan seluruh prasangka yang mereka sulam di kepala.

Tapi kali ini, aku sudah lelah berupaya.

Cukup.

Aku lelah.

Tolong... tinggalkan saja aku sendiri.

Lalu terdengarlah suara lantang yang tak kukenali asalnya.

"Jika tak ingin bercerita, mengapa sia-siakan panggung megah ini?"

Aku tersenyum mencari pemilik suara.

Lalu kuteriakkan saja saat tak kutemu siapa:

"Kalau begitu buatmu saja", kataku.

Kutinggalkan panggung yang dulu kugemari.

Tak lagi menoleh ke belakang.

Toh, mereka takkan menjadi pemirsa.

Posting Komentar

Silahkan kasih komentar kalian disini

Lebih baru Lebih lama