Kau tahu bagaimana rasanya terasing di keramaian?
Sesak.
Inginku segera berlari.
Sayangnya, kakiku tak punya cukup ruang untuk berdiri.
![]() |
| Gambar ilustrasi wanita yang kesepian (Bing AI) |
Tanya yang Tak Temukan Jawabnya
![]() |
| Gambar wanita menulis diary di malam hari ( Bing AI) |
Bukan Pemeran Utama
![]() |
| Gambar wanita berdiri di atas panggung tanpa pemirsa (Bing AI) |
Menyerah Sajalah
![]() |
| Gambar wanita mendengarkan musik di bus (Bing AI) |
Tak peduli seberapa kerasnya kurangkai metafora, tak ada satupun yang sudi berhenti.
Atau setidaknya meminjamkan telinga untuk mencoba memahami.
Barangkali, hanya buang-buang tenaga.
Hening mulai mencengkeram gendang telinga.
Aku tak lagi mencoba menari di pentas.
Kutatap langit-langit pentas seorang diri.
Aku gagal menulis ceritaku sendiri.
Lalu kututup mataku 'tuk sembunyikan getir.
Kubiarkan makian berputar ulang di kepala.
Barangkali, menyerah sajalah.
Tak Ada Pemirsa
Lalu ada beberapa pasang mata mulai mengintip penasaran.
"Mengapa tak ada satupun suara?" katanya.
Dan bisikan mulai terasa riuh di telinga.
Namun tak ada yang berani hampiri atau bertanya.
Seolah menantiku buktikan seluruh prasangka yang mereka sulam di kepala.
Tapi kali ini, aku sudah lelah berupaya.
Cukup.
Aku lelah.
Tolong... tinggalkan saja aku sendiri.
Lalu terdengarlah suara lantang yang tak kukenali asalnya.
"Jika tak ingin bercerita, mengapa sia-siakan panggung megah ini?"
Aku tersenyum mencari pemilik suara.
Lalu kuteriakkan saja saat tak kutemu siapa:
"Kalau begitu buatmu saja", kataku.
Kutinggalkan panggung yang dulu kugemari.
Tak lagi menoleh ke belakang.
Toh, mereka takkan menjadi pemirsa.



