![]() |
| ilustrasi luka akibat patah hati (Pexels.com/Maycon Marmo) |
Pernahkah kalian merasakan patah hati, namun tak ada tempat untuk meletakkan luka, sebab seluruhnya hanyalah kepingan yang tak sempurna?
Aku adalah salah satu yang rasakannya.
Luka itu ada, sayangnya ia kalah dan tak punya tempat diantara serpihan hati yang tersisa.
Bukan karena masih ingin mendamba, namun, milikku tak pernah utuh bahkan setelah ia datang mengetuk pintu.
Tak ada sambutan ataupun harapan untuk tinggal saat itu.
Sebab aku tahu, tak peduli seberapa besar mereka lafalkan setia, takkan ada satupun yang betah berlama-lama.
Seolah seluruh tamu tak punya cukup waktu untuk menunggu, sebab perginya selalu terburu-buru.
Namun, bukan karena kau tak cukup berharga.
Sebab, hidup memang tentang bagaimana melupakan dan terlupakan.
Sayangnya, tak satupun pilihan ingin kupilih.
Karena aku selalu ingin meninggalkan jejak yang tak tergerus masa.
Bukan untuk tunjukkan bagaimana aku pada dunia. Namun, cukup untuk kau kenang, setidaknya sedikit lebih lama.
Luka yang Menyisakan Hampa
![]() |
| ilustrasi wanita yang menatap hampa layar ponselnya (Pexels.com/mikoto.raw Photographer) |
Selayaknya kisah romansa lainnya, akan ada pemeran dari tiap cerita.
Kali ini, kitalah pemeran utama dalam dongeng yang tak biasa.
Meski dialog dan lawan main tak serupa, bacalah dulu seluruh bab tanpa sisipkan jeda atau berhenti di tengah cerita.
Sebab, siapa tahu kisah kita punya benang merah yang sama.
Entah karena luka yang terlihat serupa.
Atau sebab epilog hanyalah terisi lembaran putih tanpa tinta.
Dan dengan kerendahan hati yang aku punya, aku bersedia menceritakan bagaimana seluruh kisah yang mungkin akan buat pembaca bertanya-tanya.
Namun, jangan minta aku untuk berikan jawaban atas tiap riuh yang terbit di tiap kepala.
Sebab sampai saat ini pun, aku masih terjebak dalam labirin luka.
Dimana seluruh putaran tak lagi buatku ingin menerka jalan keluarnya.
Karena bisa jadi, aku sudah terlalu lelah untuk melawan hampa.
Merah Jambu yang Kini Berubah Kelabu
Kala itu, kami adalah warna merah jambu yang paling bersemu.
Meski masa adalah musuh yang paling ingin kami musnahkan, sayangnya aku tak cukup punya kuasa untuk hentikan tiap jarum jam.
"Asal masih bisa bertegur sapa", kataku saat itu.
Namun, benarkah kami bisa sekedar bicara tanpa sedikitpun libatkan rasa?
Sebab, meski belum sembuhkan luka di masa lalu, ternyata kami mampu warnai hari menjadi merah jambu.
Sayangnya, semakin hari hanya ada aku yang kerahkan upaya untuk hidupkan sinarnya..
Sedangkan dia.. sejenak yang ia ucap nyatanya memakan ratusan hari.
Lalu saat aku mulai berhenti dan biarkan warna putih muncul disana-sini.
Ia hadir seolah raganya tak pernah sekalipun pergi.
Melukis kekosongan yang belum sempat kuisi.
Kukira, kali ini ia takkan berlalu kemana-mana lagi.
Nyatanya, ia datang dan pergi berulang kali.
Layaknya permainan yang selalu ingin dimainkan lagi dan lagi.
Sayangnya, kini aku mulai lelah menantinya yang mulai tak terkendali.
Bagaimana mungkin cinta yang dulu ia lantunkan dengan merdu, berakhir layaknya permainannya petak umpet yang kini mulai kubenci?
Seolah aku hanyalah salah satu semoga yang tak terucap dari hati.
Lalu, mengapa aku harus menunggu yang tak pernah pasti?
Bila musim semi memang harus terganti, maka lebih baik tak usah bersusah datang lagi.
Akan kutimpa seluruh semu menjadi kelabu.
Dan bila nanti ia tak tahu diri dan datang lagi, biar kuhancurkan seluruh kanvas hingga tak lagi punya alasan untuk kembali.
Melepaskan Kenangan yang Mulai Kubenci
![]() |
| ilustrasi wanita patah hati (Pexels.com/RDNE Stock project) |
Barangkali, bila kalian masih ingin terjebak dalam pusaran yang tak pasti.
Biarkan aku ajukan tanya tanpa sedikitpun niatan membenci.
"Apa benar menunggunya tak sedikitpun meletihkan?"
"Apa kau siap habiskan seluruh waktu hanya untuk menggenggam fana?"
"Bagaimana bila ada masa dimana ia tak lagi tiba?"
Jika tak satupun jawaban yang terlintas di kepala selain kata tapi, maka sampai berapa lama kau ingin terkurung dalam ratap yang tak kunjung berhenti?
Sebab, barangkali saat ini, ia sedang mencoba mencuri dekap dari nama yang tak kau kenali.
Dan jika itu benar terjadi...
Sanggupkah lewati kenangan yang terlanjur terpatri?
Sebab, aku hanya tak ingin kau sia-siakan waktu merengkuh bayangan yang berusaha melepaskan diri.
Dan jika benar rasa yang ia ungkap memang nyata, mengapa tak sedikitpun berlaku layaknya seorang penghuni?
Mengapa bersikap layaknya tamu yang bisa datang dan pergi?
Kau bukanlah lelucon, jadi jangan biarkan ia menertawakan hati yang sudah payah kau rekatkan kembali.
Bila sekali saja ia beranjak pergi, maka jangan hanya sekedar mengunci hati.
Bangunlah tembok paling kokoh di tiap-tiap sisi.
Agar ia tak lagi bisa datang dan pergi sesuka hati.
Sebab, bukankah kita bisa lebih merona dari seluruh warna merah muda?
Tak perlu menunggunya memahat senyum paling sempurna.
Sebab, meski luka terhampar di tiap jengkal diri, kau tetap sempurna di hati yang menggemari.
Dan biarkan aku jadi salah satu yang merengkuh luka yang ingin kau sembunyikan seorang diri.
Sebab, bila dua luka mampu saling mendekap tanpa ragu, barangkali ia mampu pulih seiring berjalannya waktu.
*********
Bila kalian masih menyimpan luka yang belum sempat terurai, jangan ragu untuk menitipkan puing yang masih tersisa di kolom komentar. Akan kupastikan tak ada satupun yang menghakimi kisah kalian disini.
Dan jika cerita ini terasa sayang untuk disimpan seorang diri, tak perlu ragu untuk membagikannya, siapa tahu kata-kata yang kurangkai mampu mendekap patah hati yang sedang mereka rasakan, melalui tangan kalian. Terimakasih banyak sudah mampir di semesta yang kucipta!


