Maukah Kau Memutar Nostalgia Ini untuk Terakhir Kalinya?

ilustrasi memutar ulang rekaman nostalgia
ilustrasi mendengar rekaman kaset nostalgia (Pexels.com/Ivan Samkov)


Semua orang pasti pernah merasakan cinta dalam hidupnya. Terkadang, cinta itu hadir dalam bentuk kasih sayang antar keluarga. Lain waktu, ia datang layaknya sebuah film romansa. Namun, tak semua kisah punya akhir yang sempurna.

Ada yang terhenti di antara paragraf, tak punya cukup dialog untuk mencapai akhir cerita.

Ada yang terjebak di antara harap dan takdir, tak diberi kesempatan untuk memilih salah satu di antara keduanya.

Ada pula cinta yang diam-diam terhenti paksa, meski hati masih ingin berlari mengejarnya. 

Barangkali... ada satu diantara kalian yang juga merasakan hal serupa.

Dan diantara banyaknya cara untuk mengenangnya, aku memilih merangkai kata dari kenangan-kenangan yang kami rajut berdua. Hingga lahirlah bait dari jemari yang enggan berhenti berdansa.

Jika kalian tanya sampai kapan aku akan menulis tentangnya, entahlah.

Sebab, hanya dalam rima aku mampu mendekap raganya tanpa jeda. 

Meskipun kutahu, takkan ada satu pun kata yang mampu menyulapnya terbit di realita.

Namun, bukankah menghapus semoga yang dulu dikarang bersama, tak semudah saat menulisnya?

Kenangan yang Mengukir Luka

ilustrasi menuliskan kenangan lama
ilustrasi menulis tentang kenangan lama (Pexels.com/cottonbro studio)


Dulu, kami pernah saling menautkan jemari, menciptakan semesta dimana tak ada penghuni lainnya. Namun, kini nostalgia yang tumbuh dari kenangan lama hanya meninggalkan jejak luka.

Terlalu indah untuk dibenci, namun terlalu perih untuk diulang.

Sebab... bagaimana mungkin mengulang kaset yang terlalu usang, bila cela muncul di sepanjang pita?

Namun, jika kalian punya kesempatan mengulang kisah dengan peluang luka yang hadir di depan mata, akankah kalian memutar ulang seluruhnya?

Atau cukup menonton seluruh kenangan musim semi, lalu berhenti sebelum memori patah hati muncul di televisi?

Bodohnya, aku masih ingin mengulang semua. Mulai dari rona merah muda hingga seluruh warnanya pudar menjadi kelabu.

Karena sejujurnya... aku ingin mengirimkan seluruh beban yang menumpuk di kepala:

  • Tentang betapa mudahnya aku jatuh dalam pesonanya.
  • Tentang bagaimana ia mengubahku menjadi gadis kecil yang takut kehilangan boneka kesayangannya.
  • Tentang senyum yang tak pernah berhenti saat namanya bergaung di telinga.
  • Tentang hari yang tak lagi punya nama, sebab ia selalu hadir di tiap sela-sela waktunya.

Namun... bukankah kita tak bisa terus menggenggam fatamorgana?

Meski terlalu takut melepaskan kaitan terakhir darinya.

Meskipun kita tahu, menunda luka tak membuatnya hilang nyawa.

Sebab, luka akan tetap ada, bahkan ketika kita memaksa jejak-jejak miliknya tetap terjaga.

Tetapi, bukankah tak adil mengurungnya di sisi kita, padahal bahagianya tak lagi terpantul pada bola mata kita?

Sajak untuk Mengirimkan Nostalgia


Lewat tulisan ini, aku mengirimkan permintaan paling jujur dari hatiku.

Barangkali nanti, saat ia membacanya, ia mengerti akan patah hati yang kurawat sejak lama. Yang juga tak sekalipun pernah kuhardik dengan tegas.

Sebab bagiku, ialah satu-satunya yang membuatku yakin bahwa aku layak dicintai sedalam itu.

Meski akhirnya, ia memilih pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Namun jika sajak ini sampai di netranya, dan ia menolak memutar ulang cerita kita...

Biarlah kusimpan seluruh nostalgia ini bersamaku. Lalu akan kuputar seluruh kaset kenangan kita perlahan.

Setidaknya, untuk terakhir kalinya.

Sebelum aku memusnahkannya dengan tanganku sendiri.

Hingga tak lagi ada luka ataupun patah hati yang berani menetap lama.

Lalu mendekap seluruh masa lalu tanpa mengucap benci pada kenangan kita.

Dan bilamana aku berhasil terlepas dari belenggu nostalgia, maukah kalian mencoba menyusun kepingan hati kalian yang sedang berserakan juga?

Untukmu yang Belum Berdamai dengan Patah Hati

ilustrasi patah hati
ilustrasi patah hati (Pexels.com/cottonbro studio)

Jika tulisan ini terasa seperti magnet yang menyeretmu kembali ke masa lalu..

Mungkin, masih ada puing yang kau sembunyikan di sudut hatimu.

Entah karena kau terburu menimpanya dengan skenario baru. Atau mungkin kau terbiasa menutupnya rapat hingga lupa bahwa puing itu masih tetap utuh.

Tapi ingatlah, luka yang disembunyikan, tak selalu sembuh dengan sendirinya. Ia bisa saja berubah menjadi bayangan yang membebani langkahmu di depan.

Namun, tak usah terburu mengganti pemeran utama hanya karena patah hati yang semakin mendera.

Pulihlah perlahan.

Rengkuh semua rasa itu sampai ia beranjak pergi dengan sendirinya.

Lalu berdirilah lagi perlahan, seakan kalian sedang mengulang masa saat pertama kali belajar berjalan.

Namun, jangan sekali-kali menyerah dan menghapus paksa waktu yang tersisa.

Biarkan seluruh nostalgia mengalun kencang, hingga akhirnya telinga kalian mulai terbiasa.

Nikmati seluruh melodi itu hingga namanya tak lagi mengingatkan kalian pada luka lama.

Dan sampai saat itu tiba, maukah memutar kaset nostalgia ini bersama-sama?

Sampai nanti, kita mampu melepaskan seluruh cinta dan patah hati yang tersisa...

Tanpa mengucap benci, ataupun mengharap ia takkan pernah mendapat pengganti.

Karena, bukankah patah hati adalah cinta yang sedang mengajarkan bahwa tak semua harap mampu menemukan takdirnya?

*********

Bila kalian masih menyimpan nostalgia yang belum sempat terurai, jangan ragu untuk menitipkan luka yang masih tersisa di kolom komentar. Akan kupastikan tak ada satupun yang menghakimi kisah kalian disini.

Dan jika cerita ini terasa sayang untuk disimpan seorang diri, tak perlu ragu untuk membagikannya, siapa tahu kata-kata yang kurangkai mampu mendekap patah hati yang sedang mereka rasakan, melalui tangan kalian. Terimakasih banyak sudah mampir di semesta yang kucipta!

Posting Komentar

Silahkan kasih komentar kalian disini

Lebih baru Lebih lama